Rabu, 18 April 2018

Pantaskah Mengeluh?

Selamat malam kamu yang di sana, di langit yang sama namun kadang bintang kita berbeda.
Hari ini di pengujung kemilau raja siang aku berjalan menyambut senja, bahkan sampai dewi malam berkuasa aku masih setia di tempat seribu asa dan  sejuta rasa.
Sayang, kemarin aku masih ingat masih mengeluh tambahan kipas angin karena kurang sejuk, kemarin kamu masih mengeluh tambahan koleksi buku karena merasa tidak memiliki buku, kemarin masih terdengar ku merengek meminta tambahan deretan kamar mandi, kemarin aku masih mendengar keluhan-keluhanmu, seolah  berada dalam segala kekurangan.
Hari ini aku masih di bawah langit yang sama dengan pijakan yang sama pula, namun sepertinya bintang yang berbeda.
Iya sepertinya begitu...
Aku masih ingat sebagai tauladanmu saja aku sering mengeluh, maka tak heran  kau mengeluh pula.
Aku mudah sekali mengeluh bila tak menemukan spidol di meja guru, teh di meja guru atau sekadar melempar isu kepadamu dan kamu hanya menanggapinya secukupnya. Kadang aku pun mengeluh dengan sistem yang membuatku pusing atau rentetan pertanyaan dari sikap-sikap kritismu.
Hari ini pengalaman memaksaku bersyukur.
Tidak ada spidol, tidak ada air, tidak ada rentetan pertanyaan dan tidak ada ajang tukar menukar informasi baru maupun aturan pasti langkap yang mau ditempuh. Ah terlalu jahat aku membandingkamu sayang. Namun, aku sungguh tak bermaksud. Lalu ku teruskan mengingatmu di langit yang masih sama ini..
"Ayok bu saya antar ke tempat wudu" katanya dengan santun.
Tahukah kamu, untuk berwudu aku harus menunggu air mengalir lagi karena pompa langganan macet.
Lalu ketika mereka bertanya di mana aku mengajar aku menjawabnya. Seketika dan kompak mereka menyambut jawabanku "wah itu ponpes bagus dan elit".  Bahkan di detik itu aku menunduk, merasa tak pandai bersyukur atas bintang ku punya dan bintang yang mereka punya.
Iseng ku tanya pengetahuan umum mengenai perkembangan dunia, aku tak lebih dari radio butut yang asyik mengoceh sendiri dan aku sadar kamu jauh lebih asyik karena tak jarang menimpali setiap topik yang kuungkapkan.
Sayang, aku pikir keluhanmu merasa tertinggal, buta informasi, dan gagap teknologi itu salah karena yang kutemui hari ini seolah rindu dan berharap bintang yang kau punya jdi milikmu.
Sayang, coba ingat kembali. Seberapa sering kau mengeluh makanan dapur umum tidak enak, di sini mereka masak sendiri, urusan rasa mereka tak peduli. Sayang, coba ingat kembali kapan terakhir kau bersyukur temanmu banyak dan bukumu banyak.
Di sini yang ku temui tak perlu banyak jari untuk menghitung temannya dan tak perlu banyak rak untuk menyimpan buku.
Sayang, pantaskah kita mengeluh?sedang mereka rela berpeluh untuk bintang yang kita punya.
Dan tahukah sayang? hari ini aku belajar dua sisi yang berbeda dengan semangat yang sama...
Sudahlah sayang,.hanya sebagian kecil saja yang kuceritakan biar sebagian besarnya kelak yang kau temukan
Masih di Purwakarta 18 April 2018


Selasa, 10 April 2018

Paradoks Rasa

Apa sih ay,,,,tulisanmu tuh gak menarik karena bercerita mengenai mantan melulu. Coba cerita yang lain, mungkin predikat tulisanmu buruk bisa tergantikan (tergantikan oleh predikat apa? Penulis kacangan yang galau mulu?boleh dicoba hahhahaah)

Ntahlah kalau aku disuruh cerita yang lain, aku mau menceritakan apa?  karena hidup iya antara bekas dan akan....bekas dihampiri dan akan dihampiri. Bekas pasangan dan akan menjadi pasangan atau bekas pacar dan akan menjadi pacar, namun yang sakit itu bekas teman (artinya kamu sempat berteman lalu pertemananmu berakhir begitu saja tanpa kamu tahu sebabnya) kasian...hayu ah mulai cerita.

2016 adalah moment ketika aku harus berdamai dengan bekas. Iya bekas pengharapanku (bekas pacar kali, anggap saja seperti itu). Pada hari itu aku harus berpura-pura kuat menyaksikan janji suci di altar pernikahan padahal sejak 2010 itu adalah mimpinya denganku, namun dia lebih mewujudkannnya dengan orang lain dan aku hanya sebatas mimpinya bukan kenyataannya (tragis aku hanya bunga tidurnya).
Stop bukan itu yang mau aku ceritakan...aku mau bercerita mengenai 2018 saja.
Iya cerita 2018 yang seperti ingin mengulang  kisah di 2016 (jadi kamu ditinggal nikah lagi? Kok kasian...hahhah ditinggal nikah kok hobi) please bukan, ini sedikit berbeda. Kejadiannya mungkin akan beralur sama, namun konflik dan resolusinya akan berbeda. Iya karena sesuatu yang diulang apalagi luka yang terulang itu menyakitkan, jadi aku menilai ini berbeda. Sudah ah akan ku ceritakan saja.

"Kamu harus terima bahwa kamu sebatas pengantar dia menuju pernikahan bukan yang dinikahinya. Kamu juga harus sadar kamu hanya sebatas korban terakhir di jalan pencariannya" katanya sambil menepuk pundakku dan aku balas memukul perutnya. "Paling tidak jika aku tidak berharga di matanya, belajarlah hargai perasaanku jika kau manusia". kataku kepadanya dengan berlalu (siapa nih?) Temanku yang juga temannya,  Dodi namanya. Sudah lupakan Dodi, dia memang jujur, tetapi kadang tak sadar bahwa perkataannya itu menambah luka di hatiku.
Percakapan itu terjadi karena tak sengaja ku menemukan undangan pernikahannya. Iya dia akan menikah dengan temanku (yakin masih dianggap teman?) Aku memang terlihat judes, tapi tak pernah sedikitpun aku berniat memutus hubungan pertemanan, kendati aku tak lagi dianggap teman. Tak apa karena aku masih bisa berdoa suatu hari nanti ia akan kembali lalu memelukku sambil berkata "doakan dan dukung aku teman" (masa? naif)
Aku bahagia menemukan bukti di balik kabar suci itu, namun aku pun masih tak bisa berpura-pura bahagia bahwa aku bak luka di antara bahagia itu.

"Aku mundur, silakan kamu perjuangkan temanku untuk teman hatimu karena aku baru mengetahui bahwa hatinya telah lama untukmu. Mungkin aku terlalu lancang meregup harapannya darimu"
"Baiklah, jangan pernah kembali untuk alasan apapun" katanya dengan meninggalkanku.
sejak itu pula aku sulit berdamai dengan keadaan. Melihatnya berdua,  aku menangis, melihat medsosnya aku menangis, dan yang paling konyol aku jadi rajin berolahraga seperti: lari, volly, dan basket hanya ingin lari dari sebuah rasa sakit. Sakit yang akarnya aku gali sendiri. Sakit dari kepengecutanku yang tak mampu berjuang. Sakit karena ingin belajar menjadi lilin yang berharap menjadi penerang. Sakit karena tak berniat menyakiti teman sendiri. Sok belajar kuat untuk melihat dia bahagia bersama teman.  Namun aku gagal, hati dan pikiranku berkhianat. Aku tak sekuat teriakan kala itu, aku tak sekuat pelukan perpisahan kala itu, aku tak sekuat tamparan kala itu, aku kalah dengan kenyataan, aku benci bahkan mengutuk diri. Ada hati yang tak mampu ku kunci di dalam mimpi.
Kadang aku berpikir ini cintakah atau sebuah ambisi? Karena ketika ini cinta aku seharusnya bahagia melihatnya bahagia, namun jika ini ambisi mengapa aku tidak berjuang, melainkan melepas dan hanya diam-diam menonton juga menggali kuburan pesakitanku sendiri.
Hubungan hati selesai dan pertemanan pun sepertinya tidak dimulai lagi. Kala itu aku selalu bertanya apa salah ku? (Sok-sokan sih, iya jelas salah) Di sini aku tak pernah tahu jika temanku dahulu mencintainya. Aku tahu di pengujung kisahku dengan segala prahara juga dusta. Kemudian ajakan yang tak bersambut, lalu muncul ajakan lain. hingga akhirnya aku memilih mundur dengan menyembunyikan kekalahanku.  Menyembunyikan harapanku dengan rasa sakit yang tak pernah aku bayangkan. Menyembunyikan rasa bahagia ketika melihat wajahnya di pengujung cintanya yang baru.
Aku tak sanggup berjalan tegak atau berlari kencang. Aku hanya mampu merangkak menunduk menyembunyikan ketakberdayaanku (lemah, katanya demi teman). Aku bukan lemah aku hanya perlu waktu untuk baik-baik saja (sok kuat nyatanya lemah, lanjutkan endingnya karena aku bosan dengan kelemahanmu). DIAM!  karena sakit atau tidak hanya aku yang tahu (dan orang lain pun tahu bahwa kamu lemah. Cepat cerita lagi).
Hingga di suatu pagi aku dihadiahi sebuah pertanyaan yang tak pernah kuinginkan.
"Kenapa kalian sekarang seperti saling menghindar dan tak pernah saya temukan lagi kalian bersama?"pertanyaan yang hadir sebagai bentuk kesadaran atas kerenggangan  hubungan pertemanan.
"Tak apa" sesingkat itu kujawab lalu aku meninggalkan pemilik pertanyaan itu.
Aku tak sanggup lagi berbohong, aku tak mampu lagi berpura-pura kuat hingga akhirnya aku berondong pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantuiku.
"Mengapa kamu memusuhiku, apa salahku? Di sini bukankah aku tak berniat menyakitimu karena sebelumnya aku tak tahu perasaanmu. Sebutkan di mana kesalahanku ketika aku mencintainya dan aku tak tahu kamu mencintainya juga.  Aku tahu mencintai itu melepas untuk saling membahagiakan, namun apakah aku harus terus menerus berpura-pura bahagia melihat kebahagianmu.
Aku tak minta kebahagianku, aku hanya menginginkan pertemanan kita sama seperti dulu. Aku sudah meninggalkan cinta karena cintamu tidak untuk ditinggalkan, dan tolong maafkan aku serta kembali menjadi cinta dalam temanku.
"Tidak, kamu tak pernah salah, justru aku tak tahu caranya memulai aku takut semakin membuatmu sakit. Aku pun meminta maaf karena sedikit banyak menyakitimu tapi tidak dengan sengaja menyakitimu karena aku hanya menerima cinta. Pertemanan seperti dahulu itu yang ku mau, tapi apabila waktu dan rindu tak menginginkannya  biarkan  berseteru sejenak lalu kita akan kembali padu. Maaf dan terima kasih serta doakan ikhtiar suciku ini."katanya kusambut peluk dan tangisan.
Syahdu...kami berseteru lalu menangis saking menguatkan.
Temanku sesakit apapun perasaanku, aku tak pernah ingin melihatmu sakit. Biar aku menjerit sakit, menahan rindu bahkan menahan dendam. Yakinlah aku bisa membuangnya secara perlahan karena aku harus belajar dengan keadaan.
Tiada kebahagiaan yang paling indah ketika hari bahagiamu tiba dan aku harus benar-benar bahagia, dan selalu bahagia.
(Buktikan jika memang kau bahagia, aku tak menginginkan kau terus berdusta).  Kemarin mungkin aku sempat berdusta, tapi kini meski luka aku akan berusaha bahagia. Doakan dan jangan tinggalkan. Kelak aku akan  mengubur duka dan memahami cinta. Cinta itu tidak untuk satu titik, namun semua titik dan akan dipertemukan oleh titik yang kelak membentuk garis.

#ceritatidaknyatahanyapenggabunganpengalamandan imajinasi
#imajinasiajakok
#justfun

Selasa, 20 Februari 2018

Dear Abang Angkot

Dear Abang angkot..
Hari ini engkau paksa aku, turun dari elef yang berniat baik mengantarkanku ke sekolah, aku bingung antara harus menangis karena hari ini mengecewakan anak-anakku di kelas atau bingung karena uang milik guru honorer seperti aku ini pas-pasan. Namun, terima kasih mobil bak hari ini kau pahlawan anakku, meski sedikit peluh dan sedikit waktu tersisa aku bisa tetap menyapa anakku.

Abang angkot tersayang, terima kasih loh hari ini aku harus berjuang mencari tumpangan, patwal sudah penuh mengangkut anak sekolah, truk tak mungkin aku panjat, aku hanyalah ibu-ibu berseragam yang tak muda lagi.

Abang angkot budiman terima kasih, hari ini kau mengajarkan kami olahraga. Hampir sepekan terakhir ini kami sibuk persiapan UN. Namun, hari ini selepas TO aku hrus berjalan hingga aku bosan menghitungnya dengan ditemani hujan yang berizin.

Wahai Abang angkot, hari ini aku tak jadi jualan karena aku tak mampu berjalan menuju pasar. Aku memang tak lagi muda, tetapi kau mengajarkan sabar kepadaku. Hari ini aku harus berpuasa karena tak ada untung di hari yang  kucinta ini.

Abang angkot yang disayang Tuhan, terima kasih pelajarannya karenamu aku sabar untuk  menunggu berjam-jam siapapun yang lewat dan berharap tetap dapat  menemui Dosenku. Ternyata ada yang mengenalku, lalu mengajakku untuk berangkat bersama dan aku lulus Ujian Abang.

Abang angkot, aku tau mungkin Abang tak mengenal dekat denganku, tetapi bukankah kita sering bertemu?

Abang angkot yang baik, sebenernya apa sih yang abang takutin dari angkutan online? Abang pikir karena penghasilan abang berkurang? Abang lupa ya waktu penumpang minta cepet-cepet angkot Abang jalan, terus jawaban Abang apa? "Kalo mau cepet naik mobil sendiri" nah sekarang doa abang di kabulin Tuhan, kita pake jasa online mobil serasa mobil sendiri dan cepet lagi.

Abang ingat, waktu diminta untuk tidak merokok karena penumpangnya ada ibu-ibu dan anak-anak ? Dengan angkuhnya Abang bilang : "kalau mau bisa ngatur supir, naik taksi aja"  sekarang Tuhan kirim angkutan online yang nyaman, kenapa Abang protes?

Abang inget gak waktu uang penumpang kurang apa yang abang lakuin? Teriak2-teriak sambil ngomel-ngomel kan terus bilang "woiii kurang nih uangnya gimana sih, gak punya uang jangan naik angkot" doa Abang juga sekarang dikabulin bang...ada ojek online yang penuh dengan diskon...terus kenapa abang marah?
Abang sadar gak yang paling sadisnya lagi...waktu penumpang di angkot cuma sendirian? Abang turunin tuh penumpang di tengah jalan tanpa Abang peduliin keselamatan penumpang itu terus Abang minta pula ongkosnya...tanpa Abang mikirin tuh orang masih punya uang apa engga? Gimana kalo ongkosnya cuma segitu-gitunya...nah sekarang Tuhan kirimin ojek online yang nganterin penumpang sampai tujuan. Terus kenapa abang cemburu?
Banyak Copet di angkot dan Abang tau itu copet tapi Abang diem aja ga bs ngasih tau dan lindungin penumpangnya, banyak pelecehan seksual di angkot juga tapi Abang bisa apa???? belum lagi yang ngamen sambil maksa minta uang dari penumpang,, mabok pula serem bang.. gak nyaman naek angkot sekarang..
Kan kayak sticker-sticker yang di angkot Abang "Anda butuh waktu, saya butuh uang" tapi kenapa abang sering ngetem? Kalo kita bilangin, abang suka galak...sedih tau Bang, hancur nih perasaan penumpang, berjam-jam maju mundu ngetem  tak hentinya Abang memberikan harapan palsu untuku tepat waktu.
Oh iya Bang, sekarang mendingan pada damai, kalo ngerasa rezeki terhambat karena ini- itu mending sama-sama intropeksi diri aja. Coba deh pikir lagi Bang, Abang memangnya sudah yakin bahwa rezeki Abang berkurang gara-gara angkutan online? Bukan karena hasil nanam Abang dan sekarang Abang lagi menikmatinya (metik). Perlu bang aku ulang lagi diari Abang bersamaku. Sekali lagi tak usah sibuk menyalahkan orang lain, sedangkan aku di sini seringkali sakit karena tak kau hargai dan kali ini kau bahkan tega menganggapku tiada. Introspeksi Bang, rezeki sudah ada yang ngatur dan masih banyak yang setia menunggumu. Sabar menunggumu, walaupun tak jarang kau membuatku olahraga jantung karena rem mendadak dan berhenti sesuka hati. Mari berubah Bang sebelum aku bosan benar-benar menunggumu  😉😉
#sharedarikamiparapenumpang
#hakpenumpang/warga
#edit
#Anonim

Kamis, 18 Januari 2018

Sial! Aku Cuma Ngarep

Sial aku cuma ngarep (dan itu kebanyakan)

Oke, saya naik iya (naik apa?saya?dan hidup saya sekaku itu? Baiklah saya ulang).
Oke, naik iya, kataku dengan manis dan berusaha lembut selembut ibu pangeran.
"Siap, mau santai atau cepat?"pertanyaannya dengan santun (hayo, sudah bisa nebakkan?maksudnya aku naik apa?iya aku pelanggan ojek daring (online).
Iya berangkat ngantor iya ngegojek, pulang kantor juga ngegojek sehingga teman-teman kantor mendokan, eh lebih ke ngejek deh "sukses iya, semoga gojek kali ini jodohmu dan diaminkan secara kompak pula.
Namun, begitu ku hampiri gojek pesanan ku sontak kukatan "amit-amit dan ku teruskan komat-kamit macam orang baca mantra (halah malah nyayi). Sial gojrk kali ini perempuan dan rekanku mendoakan dia jodohku (risiko buru-buru tidak sempat melihat identitas driver) jadi ku iyakan saja doa mereka.
"Tuhan, please untuk pertama kalinya, jangan kabulkan doa mereka hari ini karena itu bencana bagiku". Sambil kupejamkan mata untuk menambah keyakinan doaku.
"Maaf bu, ada apa iya? Silakan naik Ibu. "Suara si ibu gojek membanvugugunkangunkan kesungguhanku  berdoa.
"Oh, iya..hayukk cabut".
Lalu perjalanan pun berjalan dengan baik-baik saja dan selamat sampai tujuan.(ahahahah sudah ceritanya begitu saja, ngarep ada yang menarik iya? ternyata gak ada apapun)
Itu kemarin, hari ini cerita ngegojekku berbeda.
Hari ini driver gojek ini, mas-mas ganteng dan wangi (ahhahah pegasan karena suatu hari pernah naik ojek gitu, drivernya asem banget dan mungkin karena matahari terlalu panas iya).
Hari ini aku sempet tuh ngayal "Tuhan apakah ini jawaban dari teman-teman". Ngayalku semakin liar, aku semakin jauh berharap di tengah label single yang semakin renyah menjadi bahan ejekan. Aku berharap adan ungkapan manis dalam hidupku misalnya "jodohku mg gojek" "suamiku nemu di gojek" dan apalah.
(Omong-omong, aku baru sadar nih..gojek di sini bbukan merek salah satu ojek online iya, hanya salah satu ojek online yang sering aku pesan secara acak dari berbagai merek hhaha pengejar promo).
Hampir setengah perjalanan drama ngayalku masih berlangsung, sempat berhenti karena memandangi motor yang sepertinya ku ke kenal. Oya, motor gede yang dahulu sering menjadi sarana malam minggu bersama dia (mantanku).
Sedikit ragu sih  iya atau tidak, namun aku hafal betul motor yang sempat menyumbangkan kebahagian, sarana pelepas setres, dan pembawa pelukan tak terduga (moment rem mendadak).
Jeng...dretttt.astagfirullah motor rem mendadak, sontak saja muka saya membentur helm driver. Sial, bukannya pelukan mendadak malah muka penyok mendadak. Gini nih korban pengendara yang motong jalan sesuka hati, untung nih muka buka kw. (Kalau kw udah oblak hhahaah).
Seketika gagallah khayalan indahku bersama gojek ini. Gagal, berantakan gara-gara tabrakan muka dan helmnya.(jangan bayangkan muka kesal iya, sudah pasti jelek kok karena sehari-harinya pun jelek).
Akhirnya aku kembali mencari sosok pengendara motor gede itu dan ternyata ia tertinggal di belakang. Tak lama ia sejajar dengan motor yang memboncengku, lalu dengan isyarat tangan yang membuatku tersipu dan yakin bahwa dia mantanku. Ia berteriak dan ku kira bilang I love u, balikan lagi yuk. Ternyata saat dia hampir sejengkal di dekatku yang ku dengar adalah peringatan dari seseorang yang sama sekali tidak mengenalku "maaf bu, itu baju luarannya menjuntai, hati-hati terlilit ban". Sial bukan dia yang ku harapkan dan sialnya lagi aku tidak sadar bahwa outerku menjuntai liar dan hampir mengundang petaka.

 Baiklah kita simpan dahulu cerita itu karena selanjutnya iya gitu-gitu aja. Gak ada khyalan-khyalan indahku yang terwujud.
Oh iya tadikan aku baru aja bahas matan iya. Nah aku jadi ingat sama driver gojek yang ternyata....( ...bukan . Tebakan mu salah, dia buk mantanku)

Nah, pagi di hari jumat ketika perjalanan agak macet, tiba-tiba driver bertanya.
"Mbak, mau ke sekolah Mbak guru iya"
"Bisa dibiliang begitu sih mas"
 Begitu seterusnyalah kira-kira obrolan kami di kal macet. Hingga kami salin menyadari bahwa salah satu temannya di adalah temannya aku juga dan ketika aku hendak turun drivet itu berhasil membuatku tertawa setengah memaksa.
"Oh jadi mbak itu mantannya temanya tem aku, yang pacaran 6 tahun terus ditinggal nikah. Salam kenal mbak, sabar dan keep strong iya."katanya dengan tersenyum (senyumnya itu mungkin dia anggap sogokan agar aku tidak marah dengan ungkapannya kali iya, dan dia berhasil).
Aku hanya tersenyum, mengiyakan (karena itu kenyataannya) .
"Baiklah, terima kasih mbak, saya pamit dulu ingat loh iya, nilai jasanya jangan sampai buruk gara-gara 6 tahun yang saya singgung. Mari."
Sial...
Driver gojek itupun gagal jadi jodohku dan dia menjadi tambahan penonton kisahku yang berakhir di resepsinya, namun aku hanya sebagai undangannya.
Ah... sepertinya aku tau ke mana alur cerita ini/curhat ini. Ujungnya sudah bisa dipastikan akan berakhir di mantan dan untuk mantanku tercinta terima kasih atas kenangan indah yang pernah kau berikan (peres,,,hahhaha)  buat pasangan mantan kalau kebetula baca tulisan ini, mohon mantan saya jangan direbus, dimutilasi aja. Aku ikhlas kok...hahhahahhaha
Selow..  hanya sebuah ide, belum pasti dan harus direalisasikan...
#salamperdamaian
#mantanbaik-baikiya
#mantankalauanakmubutuhjodohkasihtauaku
#kasihtauajaudahgituaja

Nah kan ngelantur, baiklah sebelum negara api menyerang (medsos di blokir mtan) kita sudahi saja tulisan tak berfaedah ini. Salam

Minggu, 14 Januari 2018

CURANG, nikah duluan katanya mau bareng

PETUAH TAK TERARAH


Jangan katakan apapun ketika kamu datang ke nikahan mantan, cukup katakan : curang nikah duluan, katanya mau bareng dan tunggu wajahnya memerah....







Kemarin, beberapa hari ke belakang aku baru saja mendengar berita manten pria pingsan di pelukan mantan. Beberapa bulan ke belakang juga sempat ada berita "ketika datang ke nikahan mantan peluk pengantin". Itu yang romantis, yang sadisnya juga ada "mantan menikah, laki-laki ngamuk di hajatan".
Aku dibuat berpikir keras, mencoba menerka sebenarnya apa yang terjadi, kok kisruh itu penyebab utamanya mantan semua iya, padahal kalau kamu bisa lebih selow dengan "mantanmu, masa lalu mu" dunia ini baik-baik saja, atau mungkin mantan sengaja kali iya buat kisruh atau drama gitu agar dunia persilatan ramai dan viral (bisa jadi begitu).

Cie...cie ngomongin mantan, emmag sih kalau ngomongin mantan itu gak ada habisnya, seperti cerita penutup kelas sore kemarin yaitu "jangan katakan apapun ketika kamu datang ke nikahan mantanmu, cukup katakan : curang nikah duluan, katanya mau bareng." Begitu kira-kira kalimat yang berhasil membuat anak-anakku (murid iyak) baper.
"Ih sweet kak...tetapi kok bisa sejahat itu iyah..." kira-kira begitu kata salah satu anak yang berkaca-kaca menyimak ceritaku.

Tadinya aku gk mau cerita apapun apalagi mengenai tragedi enam tahun pacaran dan berakhir ditinggal nikah. Namun, selepas temna sekaligus pengajar menikah (yang ternyata dia sudah cerita perjalanan cintanya sampai akhirnya menikah) anak-anakpun kepo sekaligus memaksa aku cerita dan aku ternyata senang dipaksa cerita.

Dahulu semasa SMA, awalnya sih aku gak mau sekolah di sana. Seiring berjalannya waktu aku mengenal seseorang yang menurutku menarik. Selidik punya selidik dia adalah siswa yang cukup pintar, sholeh, dan baik. Dia tidak banya bicara cenderung cuek, tetapi ketika sekali berbicara luluh rasanya (lebay ahahha). Dahulu itu aku lupa kapan akhirnya membuat komitmen dengannya, yang pasti aku semakin dekat dengannya setelah menolak dengan banyak alibi dua orang yang mengajakku pacaran. Setiap pulang sekolah kami sempatkan pulang bareng naik elef (padahal aku gk pernah mau naik elef karena takut. Elef itu mirip bus kecil yang terkenal dengan kecepatan lajunya, kadang ada kakek-kakek terpleset turun di elef karena mang supir selalu sigap injak pedal gas). Itu isu yang berkembang, tetapi setelah aku pulang bersamanya  tenteram saja, aman, dan asyik (karena kalau rem mendadak bisalah curi-curi kesempatan dekat sama dia).
Katanya pacaran, pulang barenng. Jangan berpikir diongkosin, tidak kami mengeluarkan ongkos masing-masing (maklum uang pas-pasan). Aku juga kadang aneh, dahulu bahagia itu sesederhana pulang bareng naik elef iya...wkwkwkkwkwk
Aku dan dia satu ekskul dan aku lebih semangat mengikuti ekskul daripada berada di kelas dengan guru yang kalau menjelaskan materi kebanyakan pemer mobil barulah, motor ninjalah atau sepatu mahalnya.
Selain itu mengikuti ekskul artinya aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, bercanda, tukar pikiran atau sekadar menjahilinya, dan itu merupakan bagian terindahku tempo dahulu.
Rasanya waktu bergulir cepat aku mendapat beasiswa keluar kota dan dengan berat hati menjalani LDR. walaupun LDR kami berkomitmen untuk saling setia. Satu semester berjalan aman. Tibalah di semester kedua mengingat intensitas waktu yang tak pernah cocok untuk berkomunikasi memicu kami bertengkar, mulai dari tuduh-tuduhan, curiga, dan saling memaki, dan damai kembali.
Tiba-tiba karena rasa curiga semakin menumpuk dan cemburu yang sudah tertahan (karena aku keseringan pergi sama teman-tem dan rata-rata mereka cowok), serta ditambah pihak ketiga yang mengadu domba kami putus dengan saling memaki. Alhasil kami musuhan selama setahun, namun tetap menjadi stalker setia sehingga bisa saling mengetahui kehidupan masing-masing.
Pada suatu hari, waktu membawa kami bertemu kembali. Saling mengakui kesalahan dan memafkan. Kami memulai kembali hubungan yang sempat terputus.
"Selama setahun kamu pacaran tiga kali dan gk pernah lulus pertanyaan cewekmu karena nasing sayang sama aku. Kok kasihan sih". ejekku kepadanya dengan setengah menggoda.
"Kamu juga pacaran satu kali, sok-sokan langsung tunangan eh ternyata diselingkuhin itu tragis".balasnya dengan mencubit pipiku.
Selanjutnya ki larut dala obrolan ngaler ngidul selama peemusuhan kami, hingga saling mengaku menjadi stalker dan tidak bisa moveon, serta baru tahu pihak ketiga yang mengadu domba kami menjadi pemicu putusnya hubungan kami.
Kala itu, aku dan dia berjanji untuk menjadi lebih baik dan berusaha memulai dengan tidak mengungkit rasa sakit dahulu.
Aku pikir, semuanya akan baik-baik saja dan kenyamanan itu hanya bertahan enam bulan. Rasa sakit yang berlebih itu kembali muncul ketika dia menghilang tak ada kabar. Tiba-tiba dia menelepon dan hanya mengatakan "Aku disuruh nikah sama ibuku, hubungan kita sampai di sini iya" dan telepon pun di tutup.
Jangan ditanya sesakit apa, silakan ikut bayangkan pacaran enam tahun dan tiba-tiba dia pamit nikah. Rasanya itu biasa aja, aku cukup menggila berbulan-bulan, bb turun drastis, mandi jarang, makan seketemunya, dan rambut dipangkas pendek sekali.
Rasa sakitku bertambah ketika aku tahu dia tidak langsung menikah, hanya tunangan dan menikahnya setahun kemudian.
Menikah dua bulan sebelum aku lulus wisuda itu sangat menyakitkan dan aku hrus tetap datang ke pernikahannya, hanya untuk sebuah gengsi tidak mau dilabeli kalah sekaligus sebuah pembuktian bahwa aku wanita kuat.

Tiba di tempat resepsi, kakaknya yang ku tatap lebih dahulu hingga tangannya merangkul sambil berkata "semoga ada yang lebih baik" dan aku hanya tersenyum getir.
Aku tak mengatakan apapun kepadanya, dengan setengah berbisik ku katakan "curang menikah duluan, katanya mau bareng". Seketika mukanya menerah dan siapapun akan tahu bahwa dia salting.
 Setela bersalaman aku pamit pulang, namun tak langsung pulang aku mencari warung kopi sekadar untuk menenangkan hati yang  teriris dusta. Sakit bukan kepalang, miris menjadi pasti, dan marah yang tidak terarah.

"Terus kak, sekarang kakak musuhan dong"?tanya salah satu anak dengan antusias.
"Baik-baik saja, hanya dia selalu menghindariku mengingat istrinya cemburu kepadaku (ialah mantan terindah)"jawabku dengan setengah sombong.
"Sekarang apakabar dia kak"tanyanya kembali dengan menyusut air mata (ikut bersefih dengan nasibku kali iya.
  Nasibnya? Entahlah aku bukan stalkernya dan apapun yang terjadi padanya bukan milikku lagi. Jadi apapun tentangnya aku tak tahu dan tidah pernah ingin tahu.


Senin, 13 Februari 2017


#5
Alhamdulillah telah lahir bayi perempuan, bermata dua, kaki dua, tangan dua dan berteliga dua.  Rencananya bayi tersebut akan diberi nama semau ibu bapaknya (ahahahahhahah itu lho cucu tetangga). Ngomongin soal bayi, aku tuh iya suka banget sama bayi, bayi siapa aja aku godain hee (pantes jomblo iya godaiinnya bayi). Gak tau sih aku lebih tertarik sama bayi cakep daripada sama mas-mas cakep. Ahh tetapi kalau ada bayi cakep digendong mas cakep, itumah rezeki,,,bonus cuyyy,,hehheheheh. Kemana pun aku pergi, nih mata emang gk bisa diajak kompromi kalau sudah ketemu bayi. Jadi inget suatu hari aku pernah kelepasan gitu nabok teman cowoku gara-gara bayi. Ahahahhaha awalnya sih dia gk masalah sengerin ceritaku yang isinya soal bayi. Sekali dia dengerin anteng, dua kali, iya dia baru garuk-garuk kepala, tiga kali dia baru ganti gaya duduk, empat kali diadengerin sambil push-up, nah pas yang kelima kali ini , masih dalam perjalanan setengah cerita, tiba-tiba aku refleks nabok dia  (hayo kenapa),,, jadi gini lho,,,aku tersinggung sama kalimat dia itu, masa katanya “ bayi mulu, udahlah ayuk bikin, biar lu dapat bayi” sontak saja aku nabok dia. Eh selesai nabok, aku nyesel soalnya lima jari tangan bekas di pipinya dan gk than liat muka dia kesel bete juga kesakitan. Untung dia marahnya gk lama (aku sogok siomay goreng heeee) dan menurutku dia gk salah juga, dia tuh bercanda karena kesel aku ngomongin bayi terus ahahahhaha… mari simak penjelesannya.
“ahahah apaan sih, giliran gua bercandain lu nabok gua, tetapi kerjaan ngomongin bayi terus, gk bisa tuh sehari  lupa sama bayi. Nih telinga penuh sama cerita bayi-bayi, dan nih muka pegel kena tabokan lu. Lagian kadang tuh gua heran, kenapa lu gk bikin aja bayi kalau pengen. Gua tuh kesel main ke taman ada bayi lu kejar-kejar, nge-mall ketemu bayi lu godain. Gua sih gpp kalau lu maen sama bayi pas kita nongkrong rame-rame, ini lu pas nongkrong berdua sama gua dan lu godain bayi. Lu tahu gua disuruh orang sebelah gasspoll, terus gua diledekin mbak-mbak semangatlah mas,,,,lu gk tahu kan? Keki gua”. Begitulah omelannya, jadi merasa bersalah gua,,,ahahahahah dia jadi sangkaan orang yang gak-gak,,ahahah maafin iya. Iya deh nanti sarannya aku pikirin, sebaiknya aku cepetan bikin bayi, tetapi gk pake nyicil,,,hhehehehe (gaspoll nikahh,,, calon mana calon).
Ahahha gitu deh, aku tuh emang agak unik alias aneh kali iya,,,,ahahhaahahh maafkan aku yang bulshit ini. Mari beranjak dari maia, beralih pada nyata, karena tak mungkin aku punya bayi sebab status pun jomblo ora nguati,,,hheheheheh
Masih semangat kan? Yuk simak lagi ceritaku yang bulshit ini,,,,hhehehehhe. Iya suatu hari diadakanlah temu kangen SMP, iya reuni ceritanya. Entah aku kemasukan apa memutuskan untuk datang padahal biasanya juga gk pernah,,hee maklum dahulu  masih anak rantau. Singkat cerita deh, aku sudah berada di tkp. Harapan tak seindah fakta, baru aja duduk aku keki sendiri. Hahahah iyalah gimana gk keki kiri-kanan bawa  anak sambil ngabsenin satu persatu dan nanya “ sudah punya anak berapa sekarang?” aih itu pertanyaan gk  diuji kelayakan dahulu, itu pertanyaan minta diboikot,,,ahhahahah
Keadaan memang tak sepenuhnya pahit, ternyata setelah ritual pengabsenan selesai ditarik simpulan aku belum kawin tak sendiri, masih ada dua temanku yang lainnya.  “OMG dari semua teman SMP hanya kami bertiga yang belum kawin”. Gitu deh gk tahu alasannya apa, mengapa hanya kami bertiga yang belum kawin,, eiittsss tunggu dulu,,,, Si Jenong belum kawin, karena dia masih nabung untuk resepsi dan dia sudah bertunangan 2 tahun. Si Sakuneng belom kawin, karena pacarnya baru beberapa bulan yang lalu meninggal karena kecelakaan, lah aku? Hallo apakabar aku belum kawin kenapa iyakk? Yang jelas mungkin aku gk laku, secara 6 tahun ngejomblo (kendati nikah, rencana aja gk ada,,,wkwk,,,temu kangen ternyata bulshit).
Oke, temu kangen dilanjut dengan ngobrol hebring. Tibalah di titik pertanyaan “ kamu tahu gk kalau Udin sudah punya anak? Katanya pas Udin nikah kamu gk datang, emang gk diundang iya?”
Buseet dah, tuh teman-teman masih aja inget kalau Udin pacar yang penuh negosiasi dan dramaku,,,ahahhahaha
“Oya,, Udin tuh sekarang mobilnya dua lho, terus sudah ganteng jerawat bisulnya sudah hilang, kulitnya juga sudah putih karena seminggu sekali dia ke salon”.
Halah bulshit, drama mantan mesti gitu, kalau sudah putus baru deh dia berubah lebih baik. Bisa lebih putih, padahal pas jadi pacar gosong kaya pantat panik (pantat panik? Pantat panci kali), bisa lebih kaya padahal pas jadi pacar kencan aja jalan kaki. Namun, terlepas dari semua hal aku bersyukur bahwa mantan telah menemukan cara yang membuatnya lebih baik,, (akhirnya mantan berubah).
Ah aku gk mau dong kelihatan kesel gara-gara tahu kenyataan mantan, dengan gaya santai dan sombong aku katakan saja “ dan akhirnya yang pernah ngomong gk bisa hidup tanpaku, malah sudah punya anak, gimana ceritanya tuh mati tetapi punya anak” hahahahahhahah.  
                Haduhh malah ngomongin mantan, gagal moveon lagi dong, oke forget it,,,,, yukk kita inget-inget bersama, kira-kira moment apalagi iya yang pernah aku alami. Hmmmmm saaatnya mikir megang tuur seg,,he (tuur = dengkul).
Ngomong-ngomong dengkul aku jadi inget sama temanku yang baik hati, murah senyum dan suka menolong, sebut saja Udaya. Iya Udaya akhir-akhir ini terlihat semakin lola, telat mikir, dan baru kusadari ternyata penyakitnya itu semakin parah.  Seperti saat dia disuruh membuat wedang, rasanya sangat tidak layak, kesat juga pedas tak jelas. Selidik punya selidik Udaya sulit membedakan jahe dan lengkuas, bukannya jahe yang digunakan dia malah menggunakan lengkuas untu wedangnya itu (silakan bayangkan saja, tetapi jangan dicoba lho).  Hmmm untung dia masih bisa bedain garam dan gula., kalu gk bisa dibayangkan tuh rasa wedang udah kesat asain lagi.  ,, Pernah juga tuh dia pakai kaos kaki beda, mending hanya beda warna, ini panjangnya pun beda juga dan alasannya karena buru-buru.  Udaya- Udaya betapa konyolnya kamu, makan ke warteg dengan bermacam-macam lauk, eh waktunya bayar ternyata dompet lupa dibawa, untung tukang wartegnya percaya kalau besoknya Udaya pasti kembali lagidan akan membayar.  Kadang-kadang aku kasihan juga sama dia, entah kapan mulainya dia mengidap penyakit tersebut, seperti suatu malam dia kebingungan mencari kunci kamar sampai nangis kesana-sini dan ternyata kuncinya ada di sakunya… hmmmm. Namun, aku bersyukur juga untung dia gk lupa kalau setiap bulan dia harus ke ATM mengambil kiriman uang, kalau gk? alamatttt jatah makanku dibagi dua. Peyelidikan dimulai,,,,tring tring, simpulan didapatkan. Udaya jadi Miss lola setelah kecelakaan terjadi (kepalanya kebentur keras kali iya), salah ternyata yang kebentur keras adalah dengkulnya, soalnya sampai diperban gitu (berarti,,, otaknya di dengkul dong). Tim penyilidikanku akhirnya mengambil hipotesa dengan serta merta dan pandangan yang skepstis, Udaya kecelakaan yang menyebabkan dengkulnya cedera, sebelum kecelakaan Udaya kalau mikir pegang dengkul sih, itu artinya Udaya otaknya di dengkul, dan kecelakaan mencederai otaknya (hahhahahaha percoyo ra percoyo itu faktanya, tetapi jangan dianggap serius ah,,,hipotesa aku dan tim penyelidikan hanya goyunan semata). Satu hal pasti, mungkin Udaya begitu agar aku sebagai teman, dapat memberikan perhatian yang lebih dan memberikan aku kesabaran serta syukur karena setiap rumpun pasti saling melengkapi.
Udaya lah yang mengajarkanku untuk lebih sabar, iya sabar. Seperti sabarnya aku menghadapi pacarnya temanku. Sebentar-sebentar chatting nanyain pacarnya, kalau ditanya balik pasti jawabnya “hanya mastiin aja kok, takut si bebep boong”, alamakkkkkk,,,,
“kak,bebep udah makan belum”, “kak bebep ke kampus jam berapa iya”,  ngchat kaya gitu  tuh anak, mana aku tahu aku kan hanya temannya bukan cctv-nya.  Harus iya kaya gitu?, sekalian aja tuh kepalanya pasangin cctv, biar lu bisa mantau terus. Makasih Udaya berkat kamu aku bisa sabar. Sabar sih sabar tetapi lama kelamaan aku juga keki sendiri, moso memory hpku  penuh dan harus menghapus secara berkala gara-gara isinya chatting pacar temanku semua… (udah jomblo, harus ribet sama pacar orang)
 Iyahh,, baru sebentar ngetik nih penyakit akau sudah kambuh aja, dan terpaksa aku harus menyudahi tulisan ini.  Hmm tidak usah cemberut seperti itu (mau gk laku kaya aku?), kalau kangen sama tulisanku lagi,,,nanti aku lanjutin lagi iya,,,,

Biasa ,,,aku tergoda sama boneka wisuda yang melambai-lambai minta dikelonin,,hehhheheheh 

Rabu, 08 Februari 2017

Menukar Pandangan
Hai, sekarang mari kita bicarakan sesuatu yang sedikit berbobot, iya  berat badan. Bukan deh maksudnya yang apa iya,,,,iya dibilang sedikit penting kali iya. Kenapa aku ngotot mau ngomongin yang agak penting, tidak lain dan tidak salah karena kestresan aku,,ahahah (hampir gila kali iya,,,lebeee).
Lalu apa sih sebenernya yang mau aku omongin ini? Yang katanya berbobot….hmmmm jreng jreng,,, sudut pandang, iya seringkan tuh debat kusir, adu jotos, berantem ampe bertahun-tahun atau bahkan ampe bunuh-bunuhan iya karena beda sudut pandang. Namun kalo ampe bunu-bunuhan sebaiknya jangan iya, soalnya itu udah kriminal. Hmmmm kecuali kalau kamu beda sudut pandangannya sama ulet bunga. Menurut kamu ulet merusak bunga, tetapi menurut ulet dia sedang mencari rezeki, gpp deh tuh ulet bunuh aja heeee,,,,atau mau dipepes dijadiin lauk juga boleh kok dan jangan lupa pake nasi anget.
Oke, fokus ke topik permasalahan,,,,sudut pandang, sebenarnya bukan dua kata yang asing lagi karena setiap  orang pasti sudah sering mendengar bahkan mengalaminya sendiri. Nah point pentingnya di sini sebenarnya bagimana caranya seseorang  dapat mengelola, mengatasi sudut pandang agar tidak terjadi perpecahan. Ahahahah kalimatnya udah sok serius gitu iya, tetapi aku gk mau juga deh dibilang  nasihatin, iyalah orang aku  cuma mau cerita aja,,ahahhahhahahahahha.
                Cerita pertama, aku awali dari ceritaku  bersama hmmmm jodoh orang yang sempat aku jagain. Iya  aku  sama dia beda sudut pandang gitu deh.  Menurut dia dari pada pacaran terus bertahun-tahun ada baiknya cepat  menikah saja, karena rezeki  itu pasti  mengikuti. Tidak  bagiku, untuk membangun sebuah rumah tangga, itu harus didukung segala aspek, misalnya  agama sebagai tonggak kepemimpinan, pendidikan yang cukup untuk mendidik anak,  finansial untuk menjamin  kehidupan yang layak, dan kedewasaan untuk pertahanan dari segala benturan. Ahahahahah tak ingat-ingat iyohh,,, gara-gara beda sudut pandang debat gituan aja tujuh hari tujuh malam gk kelar-kelar. Secara aku malas juga , ngapain  lah sudah  serius bicara  pernikahan toh waktu itu umurku baru 20 tahun, kuliah aja masih lama kelarnya, dewasa? Aku gk jamin, agama? Baca doa aja masih googling, finansial? Bayar ukt aja masih  ngos-ngosann dan parahnya dia juga belum aku pastika baik seluruh aspeknya, yang aku tahu dia bisa ngaji karena pas SMA pernah juara murotal, dan mungkin finansial dia merasa cukup kali iya, karena dia  sudah bekerja sebagai teknisi di suatu perusahaan (UMR tumpah-tumpah). Namun, sebenarnya pandanganku bukan terpatok pada satu atau dua hal saja, karena pada khakikatnya sebagai wanita pasti muter-muter, zlimet kebanyakan pertimbangan. Iyalah masa iya kuliah belum lulus aku memutuskan untuk nikah, apakabar ekspektasi ortu? Agama dan pendidikan belum cukup udah belagu mau jadi ibu? Apakabar kualitas anak nanti. Finansial belum cukup? Masa iya gk mau resepsi, gara-gara ortu nolak biayain dan aku di sini  akumah apa atuh,,,,uang aja masih minta mereka….ahahahhaha kadang tuh emang perlulah  kita tuh menukar sudut pandang, menempatkan pandangan orang menjadi pandangan sendiri agar sama-sama mengerti dan menemukan titik temu  yang tepat. Iya walaupun pada akhirnya kita harus berpisah dan dia sudah menikah dengan orang lain, sedangkan aku di sini malah menjomblo, its ok im fine. Mungkin orang berpandangan aku salah, tidak beruntung, bernasib jelek, tetapi bagiku ini yang terbaik karena mereka tak pernah sedikit pun berkeinginan menukar sejenak pandangannya.
 Ada lagi nih cerita yang sederhana tetapi lumayan ngeselin nih. Waktu itu karena aku nolak nikah dan hubungan harus bubar gitu. Aku putar otak, gimana caranya aku harus memiliki kesibukan ahahhaahha biar cepat move on,bukan berarti aku nolak nikah aku gk sayang dia dong,,,hahahahha secara pacar dari pas lulus SMA. Mulailah aku bekerja, iya aku bekerja sebagai pelayan café, loundry. Banyak orang sih yang memandangku sebelah mata. Menurut mereka, kalau kuliah iya kuliah aja harus fokus, dan bukannya pelayan itu sama aja kaya pesuruh, babu iya, ngapain kuliah mahal-mahal untuk disuruh-suruh orang (ibaratnya buang ee pun harus nurut). Oke mungkin itu pandangan mereka, tetapi  bukan kah mereka tak pernah berusaha menukar pandanganya dengan pandanganku. Dengan bekerja sebagi pelayan, bukan berarti itu hina, bukan berarti pula aku tidak serius kuliah, bahkan tidak ada yang tahu bukan, aku bekerja yang nyatanya emang sering direndahkan orang hingga larut malam untuk bertahan hidup.  Iya begitulah aku memang tak bisa memaksa orang lain menukar pandangannya dengan pandangannku.
Nah mungkin ini pernah kamu alami juga, iya ketika aku berpendapat lebih baik temenan aja dari pada pacaran (ketika temen cowo lu nembak). Sayangnya , lagi-lagi  aku tidak bisa memaksa dia menukar pandangannya. Karena merasa ditolak dan sakit hati cintanya teracuhkan, logikanya tak digunakan lagi.   Mengumpat kesana-sini, memaki sesuka hati karena merasa cuma dimanfaatkan, diperdayakan dan diperalat kepentingan semata. Oke mari lihat sudut pandangku, mengapa harus kesal? Menyesal dan merasa sia-sia, bukannya cinta itu hanya memberi, tulus itu tidak meminta, lalu kenapa seolah sekarang kamu merasa tertipu? Bukannya itu pamrih.  Mungkin kamu memang harus benar-benar menukar pandanganmu karena segala sesuatu itu bisa berjalan begitu saja atau memang bisa sesuai harapan.   Memang benar, kamu membenci karena alasan, dan mencinta pun karena alasan, tetapi bukan berarti kamu dapat mengacuhkan ketika seseorang menolak dan tak memberikan alasan sedikitpun. Ingat pepatah? Yang cinta itu pasti mengerti, maka mengertilah walau tidak memahami. Hayoo baper….wkwkwkwkkwkkwk tau malah mubeng…
Satu lagi, belajarlah menukar pandanganmu, penolakan bukan berarti penghianatan, kebencian atau  permainan. Penolakan bisa saja sebuah  penerimaan di waktu yang tepat atau  sebuah harapan yang  harusnya kamu ketahui lebih dahulu….
                Dari tadi ceritanya gk jauh-jauh soal ABG labil,ahhahhahah oke kali ini cerita soal otang-tua yang biasanya sesuka hati memerintahkan anaknya. Mengatur anaknya harus sekolah di mana, kerja di mana, jodohnya siapa. Aku tidak menyebutnya itu salah sih, tetapi alangkah baiknya, orang tua belajar menukar pandangannya karena bukan tidak mungkin pandangannya kurang tepat dengan pandangan anaknya. Sebagai orang tua memang menginginkan yang terbaik, tetapi sebaiknya berperanlah sebagai pembimbing yang memberikan pandangan dan menentukan pilhan hak sepenuhnya anak. Ahahha iyalah aku pengalaman karena aku anak yang lagi menuntut kebebasan, kebebasan memilih, menentukan dan perencanaan (curcol).
Lupainn soal yang udah aku ceritain, mari fokus sama yang mau aku ceritain,, iya ini tentang pandangan mereka. Aku yang gk tahu tatakrama temannya banyak cowok, terus kemana-mana sama teman cowo mungkin juga itu pacar yang tiap hari ganti, hai pernah gk sih tukar pandangannnya berteman sama cowo bukan berarti melupakan perbedaan hakiki cewe dan cowo, atau melupakan kesopanan dan kepantasan. Bukan tidak mungkin yang berteman dengan kebanyakan cowo berpandangan bahwa cowo itu gk ribet, gk nyinyir, gk alay cenderung selowww dan alasan itu yang rata-rata orang gk mau pahami….

Ahhahah gitu sih iya,,,susah memaksakan menukar pandangan, atau menuntut orang lain pada posisi apa yang menjadi pandanganku…..kalau semua orang kaya gitu gk bakalan tuh ada saling curiga, iri, adu domba dan permusuhann,,,,udah ah ceritanya lain kali,,tak lanjutke,,,saiki aku lagi mager ngetikkk,,